Inilah 5 Cara Tepat Menggunakan Oximeter Menurut WHO

Semasa pandemi Covid-19, istilah pulse oximeter kerap digunakan oleh beberapa pihak rumah sakit.

Pulse oximetry sendiri yaitu sebuah alat yang dapat membantu mendeteksi tingkat oksigen di dalam darah tanpa rasa sakit.

Dikutip dari Healthline, oksimeter nadi adalah tes non invasif yang dengan cepat mendeteksi perubahan kecil dalam seberapa efisien oksigen dibawa ke ekstremitas terjauh dari jantung. Ini termasuk kaki dan lengan.

Bentuk pemakaian pulse oximetry pun seperti klip yang menempel pada bagian tubuh seperti jari atau daun telinga.

Menurut WHO, berikut 5 cara tepat menggunakan pulse oximetry. Yuk, cek ulasannya yang sudah kami rangkum!

Tidak memakai henna dan cat kuku

Dilansir NYTimes, potensi kesalahan adalah alasan pasien harus sering memantau diri mereka sendiri. Pasien dengan cat kuku yang gelap dapat mempengaruhi keakuratan pembacaan pulse oximetry.

Selain itu, kuku yang sangat panjang akan membuat jari sulit dimasukkan dengan benar ke dalam klip oximeter.

Jadi saat pemeriksaan, mungkin pasien diminta untuk menghapus henna dan cat kukunya agar tidak mengganggu pendeteksian kadar oksigen dalam darah.

Hindari cahaya berlebih saat menggunakan pulse oximetry

Pulse oximetry berfungsi untuk memantau kesehatan pada pasien dengan kondisi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, radang paru-paru dan kanker paru-paru.

Namun penggunaannya yang tepat yakni menghindari pencahayaan berlebih. Ini agar mengukur jumlah tingkat saturasi oksigen bersama dengan detak jantung memberikan hasil yang akurat.

Jika terdapat cahaya berlebih seperti lampu operasi atau sinar matahari, maka dapat mengganggu sistem pengerjaan pulse oximetry.

Namun selama tidak terpapar cahaya terang secara langsung, oximeter pun dapat bekerja secara baik.

Tidak memiliki riwayat anemia berat

Penyebab dan mekanisme pembacaan yang kurang akurat, biasanya terjadi pada pasien dengan kondisi anemia berat.

Secara teoritis, anemia berat dengan tingkat hematokrit di bawah 10% menyebabkan inakurasi pulse oximetry dan akan terjadi pembacaan hasil yang rata-rata lebih rendah 5.4% dari nilai seharusnya.

Sedangkan pasien dengan anemia, biasanya dokter memberikan penanganan berupa transfusi darah dan pemantauan medis secara ketat.

Pastikan tidak alami keracunan karbon monoksida

Sebelum menggunakan oximeter untuk membantu memastikan tanda peringatan dini, pastikan secara klinis kamu tidak sedang mengalami keracunan karbon monoksida.

Sebab ikatan karbon monoksida dengan hemoglobin yang membentuk karboksihemoglobin memiliki penyerapan cahaya yang serupa dengan oksihemoglobin.

Itu artinya, bahwa pulse oximetry akan gagal mendeteksi jika ada penurunan dari konsentrasi oksihemoglobin pada sang pasien. Bahkan dapat memberikan pembacaan saturasi oksigen kapiler perifer yang tinggi.

Apabila dokter mengandalkan hasil saturasi oksigen untuk pemantauan terapi oksigen yang diberikan, hal ini menyebabkan terjadinya underdiagnosis dan undertreatment.Tidak banyak bergerak saat menggunakan pulse oximetry

Tidak banyak bergerak saat menggunakan pulse oximetry

Namun, kualitas bentuk gelombang dan penilaian individu harus dipertimbangkan. Faktor-faktor seperti gerakan berlebih dapat mempengaruhi keakuratan.

Pergerakkan yang berlebihan pada pasien akan menyebabkan terdapatnya artefak pergerakkan yang mengakibatkan pembacaan lebih rendah atau lebih tinggi dari seharusnya, meskipun lebih jarang terjadi.

Setelah oximeter dipasangkan di jari atau telinga, sebaiknya pasien tidak banyak bergerak. Oleh karena itu, minimalkan getaran atau gerakan pada tubuh, khususnya jari atau telinga.

Demikianlah kelima cara tepat menggunakan pulse oximeter. Namun ada baiknya tidak selalu bergantung pada pulse oximetry dalam menentukan diagnosis.

Sumber : popmama.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Kami FitEveryday
Apa yang bisa kami bantu?